Kayu Sonokeling, si Cantik yang Sulit Ditemukan

Selain kayu jati, salah satu jenis kayu keras yang juga banyak digunakan untuk berbagai kebutuhan properti adalah jenis kayu sonokeling. Kayu ini dihasilkan dari pohon sonokeling atau sanakeling. Karena permintaan terhadap kayu ini cukup besar, budidaya pohonnya pun menjanjikan keuntungan. Sayangnya, tumbuhan asli Indonesia (Jawa) ini mulai sulit ditemukan di habitat aslinya. Kayu sonokeling hanya dijumpai di beberapa daerah di pulau Jawa, seperti Jawa Tengah dan Jawa Timur.  Daftar Merah IUCN mendaftarnya sebagai spesies Vulnerable (rentan).

Adapun nama latin dari tumbuhan ini adalah Dalbergia latifolia Roxb, dengan nama sinonim Amerimnon latifolium (Roxb.) Kuntze dan Dalbergia emarginata Roxb. Dalam bahasa Inggris, dikenal dengan beberapa sebutan seperti Indonesian Rosewood, Bombay Blackwood, Indian Rosewood, Malabar Rosewood, dan Java Palisander. Sedangkan di Indonesia, sonokeling terkadang disebut Linggota, Sono Sungu, atau Sonobrit.

Kayu dari sonokeling terutama dimanfaatkan untuk pembuatan perabot rumah tangga dan barang kerajinan, dan digunakan juga sebagai venir kayu lapis kualitas prima hingga sebagai bahan lantai parket (lantai kayu) ataupun pembuatan handicraft berkelas tinggi. Kayu sonokeling itu adalah bagian inti kayu yang bisa dimanfaatkan sebagai bahan furnitur dan merupakan 60-70 persen dari seluruh bagian kayu. Sisanya 30-40 persen lagi, merupakan kayu gubal (kayu teras), yang digunakan sebagai bagian tengahnya, dengan diameter 24-28 cm.

Bagi industri perkayuan, kayu sonokeling memang dikenal memiliki kualitas yang sangat baik, dalam hal tekstur dan serat kayu maupun kekuatan dan keawetannya. Tektur atau pola serat pada kayu sonokeling sangat indah dengan warna ungu bercoret-coret hitam, atau kadang berwarna hitam keunguan berbelang dengan coklat kemerahan. Sebagai kayu keras berarti kayu ini memiliki pori-pori yang rapat sehingga tidak mudah lapuk atau tidak selunak kayu randu atau kayu kapuk dan sejenisnya. Berat jenisnya adalah 0,77-0,86 pada kadar air sekitar 15%. Meskipun tergolong kayu keras, kayu sonokeling cukup mudah untuk diproses, seperti dipotong, digergaji, diukir, dan diampelas.

Selain memiliki tekstur halus dan serat kayu yang dekoratif, kayu sonokeling juga dikenal memiliki tingkat kekuatan dan keawetan, terutama pada bagian teras kayu, yang tinggi. Kayu sonokeling tahan terhadap serangan rayap, serangga, dan jamur perusak kayu lainnya meskipun tanpa memakai bahan pengawet. Keawetan kayu tersebut disebabkan adanya zat ekstraktif (semacam getah) yang dihasilkan oleh kayu itu sendiri, yang merupakan unsur racun bagi perusak kayu seperti rayap, jamur, bubuk, atau serangga perusak kayu lainnya. Zat ekstraktif tersebut terbentuk pada saat bagian tepi atau pinggir kayu (sering disebut kayu gubal) berubah menjadi kayu teras (inti kayu). Sehingga pada umumnya, kayu teras lebih awet lebih awet dari kayu gubal.

Sedangkan serat dan tekstur kayu sonokeling tergolong indah dan bernilai dekoratif. Tekstur kayunya cukup halus dengan arah serat lurus dan kadang kala berombak. Bagian tengah kayu ini berwarna cokelat ungu tua dengan garis-garis berwarna lebih tua sampai hitam. Dengan keunggulannya tersebut, kayu sonokeling layak dianggap sebagai kayu mewah dengan nilai ekonomis yang cukup tinggi. Bahkan kualitas dianggap hampir menyamai kayu Jati. Dengan nilai ekonomisnya yang tinggi, membuat eksploitasi tanaman ini menjadi ancaman utama bagi kelestarian pohon sonokeling. Populasi pohon sonokeling di alam bebas terus menurun bahkan cenderung sulit ditemukan. Oleh karena itu Daftar Merah IUCN mendaftar tanaman ini sebagai spesies Vulnerable (Rentan) sejak tahun 1998.

Olahan Kayu Sonokeling

Olahan Kayu Sonokeling
Tempat Buah Lipat

Olahan Kayu Sonokeling
Tempat lilin / Candle Holder

Olahan Kayu Sonokeling
Vase Bunga

Olahan Kayu Sonokeling
Vase Bunga

Olahan Kayu Sonokeling
Vase Bunga




Amelia Craft

0 komentar:

Posting Komentar

 

© 2011 Mahkota Sehat | ToS | Privacy Policy | Sitemap

About Us | Contact Us | Write For Us